waktu

Rabu, 08 April 2009

oshin: berguru pada timur

oshin, Sebuah Pelajaran Tentang Hidup



Tentang seorang gadis, Shin Tanokura atau Oshin, yang dilahirkan di sebuah keluarga miskin. Atau mungkin lebih pas, sangat miskin. Dengan segala suka dan dukanya sebelum kemudian dia mencapai kesuksesan: menjadi pemilik sebuah jaringan supermarket. Tapi memang hidup tidaklah sederhana. Hidup juga tidak selalu menyediakan jawaban atas semua pertanyaan. Dia harus menempuh jalan yang berliku-liku. Pada usia 7 tahun dia harus membanting tulang, menjadi seorang babysitter untuk membantu keuangan keluarga. Dari sanalah segala penderitaannya diawali. Dituduh mencuri uang dia kabur hingga nyaris mati membeku di tengah hujan salju. Petualangan melodramanya masih berlanjut, dia menjadi pelayan, bekerja di bar, juga menjadi pemotong rambut.

Oshin adalah drama tersukses produksi televisi NHK Jepang, di Indonesia Oshin pernah ditayangkan di TVRI tahun 1983. Aslinya serial ini hanya berdurasi 15 menit dan ditayangkan sebanyak 297 episode. Merupakan adaptasi dari novel yang didasarkan kisah nyata Kazuo Wada, seorang wanita pebisnis yang memiliki Yaohan, sebuah jaringan supermarket. Berseting di jaman Meiji hingga di awal tahun 1980-an. Karena menggunakan rentang waktu yang panjang maka Oshin diperankan oleh tiga orang. Ayako Kobayashi memerankan Oshin saat berumur enam hingga 10 tahun, lalu Tanaka Yuko sebagai Oshin berumur 16-46 tahun dan Otowa Nobuko sebagai Oshin tua.

Selain Indonesia, Oshin juga pernah mengharubirukan 59 negara lain, terutama di negara-negara berkembang di Asia. Bahkan hingga saat ini pun tiap kali Ayako Kobayashi berkunjung ke negara-negara Asia, dia masih mendapat kunjungan hangat di sana. Di Vietman, istilah oshin dipergunakan sebagai eufemisme bagi para pekerja domestik.

Sebelumnya, Oshin sempat menimbulkan polemik bagi masyarakat Jepang. Yakni, ketika negara matahari terbit tersebut sedang giat-giatnya mengintroduksikan perkembangan teknologinya ke seluruh penjuru dunia, dikhawatirkan kehadiran Oshin adalah sungguh sebuah iklan yang buruk. Tak lain karena di serial ini juga terungkap sisi-sisi lain Jepang yang apa adanya. Namun yang terjadi kemudian adalah justru sebuah apresiasi yang luar biasa dari dunia luar. Sebab, ternyata di antara ekspansi teknologi Jepang, masih dijumpai gadis berkimono, upacara minum teh, tatami, atau salju yang turun di pucuk-pucuk sakura. Artinya, Jepang ternyata bisa menjadi sebuah negara maju dengan tetap berpijak pada tradisi luhur peninggalan nenek moyangnya. Artinya, ternyata kemajuan teknologi tetap bisa bersanding dengan budaya bangsa.

Namun demikian, kesuksesan serial Oshin tetap menimbulkan sepercik ganjalan. Sebab gadis lugu sederhana seperti Oshin hanya akan dapat dijumpai di dalam kotak ajaib bernama televisi. Sebab menurut sejumlah survei, di tahun 1980-an, pada saat film ini dirilis, justru ditemukan fakta bahwa masyarakat Jepang mulai dijangkiti penyakit yang ditularkan dari Western, yakni produk kapitalis bernama konsumerisme.

Sekedar ilustrasi, menurut survei sebuah bank, pengantin baru di Jepang rata-rata menghabiskan sekitar Rp 100 juta, mulai dari pesta perkawinan, bulan madu, sampai pembelian tetek bengek perabot rumah tangga. Sementara orang tua di Jepang tak segan-segan mengeluarkan satu juta yen, atau sekitar Rp 12 juta, untuk membeli sehelai kimono bagi anak gadisnya. Pembelian ini dianggap layak, hanya karena anak tetangga sudah lebih dahulu membeli kimono yang semahal itu. Dalam beberapa hal, lagak dan laku orang Jepang dalam dekade 80-an akhir tak banyak beda dari perilaku orang Arab yang kaya mendadak 10 tahun silam. Mereka tidak terbelalak lagi melihat tas golf seharga Rp 3,5 juta, atau sebotol wiski yang harganya Rp 125.000. Bahkan mobil-mobil mahal dari Jerman, seperti BMW 50I, sudah mulai diinden di Jepang dengan harga lebih dari Rp 170 juta. Jangan lupa, harga-harga tersebut adalah di tahun 1980-an.

Menyaksikan Oshin bagaikan membaca sebuah diary. Masih ada pesan lain yang dapat diambil dari Oshin yaitu upaya mengangkat harkat wanita. Maklum, tradisi di negeri itu selama berabad-abad menempatkan wanita hanya sekadar ‘pelengkap’ dalam dunia yang didominasi oleh kaum berotot: pria. Atau meminjam istilah di kampung kita: ‘kanca wingking’. Wanita hanya menjadi pelayan dan lebih ekstrim: penghibur, seperti yang tampil dalam sosok geisha. Namun dalam diri Oshin seperti sebuah pesan yang dititipkan pengarang, wanita yang pantang menyerah dalam mengarungi hidup yang penuh tantangan, untuk kemudian dia berhasil menjadi seseorang.

kata bersayap

padaMATAMU | 041008
belalang belang kerontang di tengah padang
tersimpuh penuh peluh dalam pekat yang mengikat
telatkah aku untuk melesat ke kedalaman matamu
hanya sekedar untuk terhanyut dalam kalutmu

rampas | 121108
kenapa kaki ini terampas
justru ketika jarak sudah menunggu dilangkahi
dan
tujuan menunggu dilalui

kembara | 210708
karena kaki adalah nenek moyang kita
:kembaralah!

menepilah
hei!
jika memang pundak kalian masih terlalu muda
untuk menanggung semua mimpi-mimpi kami
maka,
menepilah
karena kami masih bisa menyemai mimpi-mimpi kami
dalam tidur panjang kami

kuasaDIRI | 120808
ku lilit diri dengan duri rindu yang merambat
sakitnya menyemut pada setiap sendi
menusuk senti demi senti
sakit bukanlah persoalan rasa
tapi,
ia adalah kuasa diri

sendiriDIRI | 121008
kematian adalah anugrah ke dua setelah kehidupan
dan,
kesendirian diri adalah kepastian
layaknya ketika kita hadir ke dunia ini
bukankah kita sendiri
maka,
kita pun akan meninggalkan alam ini
dalam kesendirian pula

berhala | 031108
masing-masing kita
saling berlomba-lomba
membuat monumen-monumen kecil
untuk kemudian
kita menyembahnya bagai berhala

KETIK DI UJUNG DETIK | 201208
tok...
ketik mentok
: buntu
tak...
ujung detak
: sekat
tik...
detik mendelik
: titik
tok, tak, tik
ketik ujung detik
: habis

SADAR | 080409
dekat makin terasa
;ketika jarak terberi
ada semakin terasa
;ketika hilang terberi
:terasa akan terkecap setelah tersadar kuasa diri

SEMBURAT IBU | 170109
aku melihat semburat wajah ibuku
pada garis fajar pertama di tahun ini.
ada apa ibu,
ya! aku tahu...
:tahun ini akan aku genapkan harapanmu, maaf.

KELUH RINDU |020808
sepi menyergap tiba-tiba
ketika rindu itu mengadu
anehnya di tengah keramaian
ah,
kenapa mesti mengeluh
bukankah rindu selalu datang bersama keluh

INGIN AKU | 080409
ingin aku merenung
: layaknya gunung
ingin aku meradang
: layaknya karang
ingin aku mengalir
: layaknya air
ingin aku tak punya ingin
: layaknya angin
: ku bunuh inginku
kemudian membatu

pemilu 2009, proyek sambilankah?

layar tv, seputar tempat tinggal kita, stiker di angkot dan sejauh mata memandang kita melihat foto-foto orang narsis yang bergaya abis-abisan...corwded banget, menganggu pandangan..

ya! pemilu, hajatan rutin per 5 tahun sekali sebentar lagi akan digelar...bak tukang obat semua partai mulai mengoles bibir mereka dengan lipstik janji dan segudang program imajiner yang entah apakah akan terrealisasikan atau hanya mengendap di awang-awang.

semua orang berebut untuk menjadi orang yang berkuasa...hhhuh! bingung? pasti. saking banyaknya pilihan yang masih abu-abu. semuanya menyatakan paling perduli rakyat kecil,paling bersih dan sederet paling lainnya..

lalu manakah yang harus kita pilih untuk mengamban amanah kita sebagai pemilik sah republik ini. oh, pemilu 2009, apakah semuanya ini hanyalah proyek sambilan bagi segelintir orang yang haus kekuasaan?.

tutup mata dan tutup telingga, serta biarkanlah mata batin kita yang menuntun kita. semoga kita menuju kepada perubahan positif yang membuat republik ini kembali jaya, seperti konon ceritanya orang-orang tua kita. semoga....

Senin, 06 April 2009

setelah tanggul yang tanggal di situ gintung

ada hal yang menarik pasca jebolnya tanggul situ gintung...
banyak orang yang berbondong-bondong berkunjung ke tempat kejadian, bukan atas nama empati belaka tapi lebih kepada mencari sensasi; bahkan ada yang dengan sengaja melakukan wisata bencana.

ya, wisata bencana. para pengunjung ini membawa segala perlengkapan layaknya ketika ingin berwisata; mulai dari makanan kecil, kamera, dan juga tak lupa mengajak serta handai taulannya untuk ikut bersamanya. dengan ekpresi penuh kekaguman mereka berfoto dengan latar belakang sisa-sisa bangunan yang porak poranda.

para wisatawan dadakan ini, berdandan dengan menornya, memakai busana yang paling bagus yang mereka punya. dan juga sepertinya para designer sudah membuat rancangan busana terbaru;khusus untuk busana wisata bencana ini bagi kaum hawa. mulai dari tank top ketat yang bahannya tidak panas, celana pendek, sendal gunung tak lupa kacamata hitam untuk melindungi mata dari terik matahari.

benar-benar, bangsa kita bangsa yang haus hiburan di tengah hidup yang semakin tak menghibur. kondisi ekonomi yang memperhatinkan menambah tingkat tekanan hidup masyarakat kita.

indonesia, surganya bencana....

Kamis, 26 Maret 2009

ekonomi dunia berada diposisi yang mengerikan

NEW YORK (SuaraMedia) Dengan segala hal yang terjadi di belahan bumi sekarang ini, ekonomi dunia sedang berada dalam kondisi yang mengerikan. Para pengamat ekonomi yakin bahwa saat ini dunia tidak hanya sedang menghadapi resesi tetapi lebih kepada depresi. Jika resesi hanya gangguan ekonomi yang kecil, maka depresi adalah kejatuhan ekonomi yang tragis.

Sebelumnya, dunia internasional juga sudah mengalami hal ini pada waktu lalu. Pada tahun 1929, AS, dan Eropa mengalami kebangkrutan yang hebat. Inilah kondisi ekonomi paling buruk dan paling lama selama zaman kapitalisme Barat.

Peristiwa ini kemudian disebut sebagai The Great Depression. The Great Depression dimulai di New York. Selama tiga tahun berturur-turut sejak tahun 1929, Bursa Efek New York bangkrut dan bangkrut, dan puncaknya tahun 1932, AS hanya menyisakan 20% kekayaannya dari yang mereka punyai tiga tahun sebelumnya. Ekonomi AS tiba-tiba membuat investor ogah menanamkan modalnya di sana, dan bank-bank mereka tenggelam. tahun 1933, 11.000 bank dari jumlah keseluruhan 25.000 yang ada di AS, ditutup. Bersamaan dengan itu, pendapatan ekonomi luar negeri pun berkurang drastis, dan produksi dalam negeri AS pun kembang-kempis mendekati sekarat. Tahun 1932 pun, AS hanya mempunyai 30% orang yang bekerja rutin. Sisanya? Menjadi pengangguran.

Apa yang terjadi di AS segera disusul oleh negara-negara sekutunya. AS menjadi kreditor terbesar kepada negara-negara lain. Salah satu yang menyebabkan AS terlilit utang besar adalah perang. Sialnya, ternyata Inggris dan Jerman, sebagai negara sekutu AS yang paling loyal, mengalami dampak lebih parah daripada AS. Tahun 1932, pengangguran di Jerman berjumlah 6 juta atau 25 persen dari lapangan pekerjaan yang ada.

Saat itu, negara-negara yang terkena depresi eknomi ini mencobca mencari solusi dengan cara menaikan tarif, pajak, dan menetapkan kuota untuk impor luar negeri. Akibatnya perdagangan internasional pun semakin lesu. Tahun 1932, separuh dunia benar-benar sudah lumpuh perekonomiannya.

The Great Depresi tak pelak dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi juga. Di AS, Franklin D. Roosevelt naik menjadi presiden tahun 1932 dan ia memperkenalkan sejumlah metode agar AS keluar dari himpitan ekonomi itu. Tapi Roosevelt pun gagal. Tahun 1939, hanya tersisa 15% lapangan pekerjaan di negara itu.

Bagaimana AS keluar dari The Great Depression? AS kemudian mulai memantik Perang Dunia II. Inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai jalan AS kembali ke perekonomiannya yang segar. Pengamat ekonomi menyebutkan bahwa The Great Depression merupakan buah tangan pemerintah AS yang tidak becus dalam mengelola manajemen rumah tangganya sendiri. Setelah Perang Dunia II, AS berangsur-angsur pulih. Akankah sekarang pun AS menyelesaikan resesi ekonominya dengan memerangi negara-negara Arab yang kaya seperti Afghanistan dan Iran? Kita lihat saja nanti.

Hanya dengan perang para penguasa 'uang' dunia dapat mengembalikan kekayaan yang telah hilang. Perang Dunia I dan II, tak lain ciptaan imperium 'uang' Yahudi, yang bukan hanya ingin menghidupkan kembali ekonominya, tapi juga menguasai pusat kekuasaan dunia, seperti Amerika dan Eropa. Dan, skenario itu berhasil dicapainya.

(eramuslim/ xtimeline) http://www.suaramedia.com

tan malaka; Pejuang Legendaris yang Dipinggirkan Sejarah


Pejuang Legendaris yang Dipinggirkan Sejarah

Mantan Ketua PKI dan wakil Komintern untuk Asia Tengara ini ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional.

Pengusiran, pembuangan, penangkapan, dan pemenjaraan mewarnai kehidupan Tan Malaka sebagai konsekuensi atas perjuangan untuk kemerdekaan. “Siapa ingin merdeka harus bersedia di penjara,” tulis Tan Malaka. Dan, itu semua justru kian mengentalkan legenda atas dirinya.

Setelah 20 tahun mengembara dari negeri satu ke negeri lain, Tan Malaka pulang dan terus berjuang yang berakhir tragis di ujung bedil bangsa sendiri. Dan, lebih tragis lagi, namanya dipinggirkan oleh sejarah Orde Baru walau ia ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963.

Pria bernama lengkap Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka itu lahir di Desa Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897. Beruntung ia terlahir dari keluarga Minangkabau yang terpandang, sehingga pada usia 12 tahun ia berkesempatan mengecap sekolah pendidikan guru, yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda di Bukittinggi, Sumatera Barat. Lulus pada 1913, atas rekomendasi gurunya G.H. Horensma, dan berkat pinjaman dana dari para engku di Suliki Rp 50 per bulan, ia melanjutkan studi ke negeri Belanda untuk sekolah di Rijkskweekschool (Sekolah Pendidikan Guru Pemerintah) di Haarlem. “Hutang ini akan saya bayar kembali kelak setelah pulang ke Indonesia,” tulisnya.

Di negeri Kincir Angin itu, Tan berkenalan dengan teori revolusioner, sosialisme dan marxisme-komunisme melalui buku dan brosur. Bahkan ia sempat diminta Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) mewakili Indische Vereenging pada kongres pemuda Indonesia dan pelajar Indologie di Kota Deventer. Melalui interaksi dengan mahasiswa Indonesia dan Belanda, ia semakin yakin bahwa melalui jalan revolusi, Indonesia harus bebas dari penjajahan Belanda. Keyakinan yang dipegang secara konsisten. Itulah masa awal dalam pengembangan politiknya.

Selama belajar di Belanda, Ipie—panggilan Tan di sana—kerap sakit akibat makanan dan iklim Belanda yang tak cocok, serta menderita pleuritus.

Pada November 1919, setelah kecamuk Perang Dunia I usai, pemuda cerdas itu pulang ke Tanah Air, dengan napas lega. Ia merasa terbebas dari dunia di sekitar meletus dan selesainya Perang Dunia I serta selesainya revolusi sosial Rusia.

Tan kemudian mengajar anak-anak kuli kontrak di perkebunan tembakau milik orang Jerman dan Swiss di Deli, dekat Medan, Sumatera Utara. Di lingkungan perkebunan itu semangat radikalnya tumbuh ketika ia menyaksikan ketimpangan sosial antara kaum buruh dan tuan tanah.

“Kekayaan bumi iklimnya Deli menjadi alat adanya satu golongan kaum modal penjajah yang paling kaya, paling sombong ceroboh dan paling kolot pada satu kutup. Di kutup yang lain berada satu golongan bangsa dan pekerja Indonesia yang paling terhisap, tertindas dan terhina: kuli kontrak,” tulis Tan Malaka dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara.

Pada masa itu, ia sudah mulai terlibat dalam politik, dengan menjadi anggota Indies Social Democratic Association (ISDV), yang kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Di surat kabar terbitan ISDV, Tan mempublikasikan artikel pertamanya.

Ia pun kerap terlibat konflik dengan manajemen perkebunan orang Eropa atas isi pelajarannya kepada siswa. Konflik juga dipicu oleh artikel politik liberal yang dia tulis di koran lokal, serta kegiatannya sebagai aktivis serikat buruh, terutama pada pemogokan buruh kereta api pada 1920.

Pada akhir Februari 1920, ia pergi ke Jawa dan dimulailah babak baru kehidupan dengan terjun ke gelanggang politik. Awalnya di Yogyakarta tapi kemudian segera berpindah ke Semarang, kota yang disebut Tan sebagai “Kota Merah”, untuk mendirikan sekolah rakyat bagi anak-anak Sarekat Islam (SI), sebuah organisasi yang didirikan Semaun. Ruang rapat Sarekat Islam Semarang diubah menjadi sekolah. “Dalam satu dua hari saja saya sudah bisa mulai dengan kurang lebih 50 orang murid,” tulis Tan Malaka.

Sekolah itu kemudian berkembang sangat cepat, yang dijadikan model sekolah lain di sejumlah kota di Jawa. Melalui sekolah itu, Tan menciptakan kader-kader baru.

Di luar pendidikan, Tan Malaka dengan cepat terjun dalam kerja politik: ambil peran kepemimpinan dalam sejumlah serikat buruh dan menulis artikel di sejumlah penerbitan PKI. Kepemimpinannya pun meroket tatkala pada kongres PKI 24-25 Desember 1921, ia terpilih sebagai Ketua PKI, menggantikan Semaun.

Salah satu ciri kepemimpinan Tan kala itu adalah mendukung persatuan PKI dan Sarekat Islam untuk menghadapi penjajahan. Ia merupakan pendukung perjuangan menentang perpecahan dengan Sarekat Islam. Sebab, bagi Tan, antara komunisme dan Islam saling melengkapi, dan di Indonesia, revolusi semestinya dibangun di atas keduanya. Pada skala internasional, Tan Malaka juga memandang Islam sebagai pegangan yang potensial untuk menyatukan kelas pekerja di beberapa negara di Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Selatan melawan imperalisme dan kapitalisme. Posisi ini menempatkan dia berlawanan dengan Komunis Eropa dan pemimpin Komintern.

Karena peran Tan Malaka dalam PKI dipandang oleh pemerintah kolonial sebagai kegiatan subversif, ia ditangkap Belanda di Bandung pada Februari 1922. Lalu pada 24 Maret tahun itu ia diusir dari Indonesia. Itulah awal pengembaraan panjang dari negeri yang satu ke negeri lain selama hampir 20 tahun.

Ia pergi ke Belanda dan hampir menjadi anggota Parlemen Belanda, lalu ke Jerman, pindah ke Moskwa. Di negeri beruang merah itu, Tan terlibat secara mendalam dengan politik di Komunis Internasional (Komintern). Ia beralasan bahwa partai komunis Eropa seharusnya mendukung perjuangan kaum nasionalis di Asia. Pada pertemuan Komite Eksekutif Komintern Juni 1923, ia terpilih sebagai wakil Komintern untuk Asia Tenggara. Tugasnya antara lain memberikan usul dan kritik bahkan veto atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya.

Dengan penugasan dari Komintern, ia pindah ke Canton, Cina, Desember 1923, menjadi Kepala Biro Serikat Sekerja Timur Merah. Di sana ia bertemu dengan komunis dari Cina dan Indonesia serta tokoh politik nasionalis Sun Yat-sen. Pekerjaan Tan Malaka termasuk menerbitkan sebuah majalah berbahasa Inggris. Sempat ke Tokyo sambil menulis buku Menuju Republik Indonesia.

Tanpa paspor, Tan Malaka memasuki Filipina. Ia tiba di Manila pada 20 Juli 1925, dengan kapal Empress of Russia, dan menyamar sebagai Elias Fuentes, seorang muskius yang bekerja di kapal. Ia berusaha memulihkan kesehatannya di rumah keluarga “Nona Carmen” di Santa Mesa, dekat Manila. Beberapa bulan ia menginap di rumah Apolinario G. De los Santos, Rektor Universitas Manila. Di sana, ia menulis secara teratur di harian El Debate.

Sementara itu, di Tanah Air terjadi pemberontakan 1926, yang digerakkan PKI. Namun, pemberontakan itu gagal dan dapat mudah dipadamkan oleh kolonial Belanda dalam waktu singkat. Akibatnya, ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Papua.

Tan Malaka mengkritik peristiwa itu sebagai pemberontakan prematur, adventuristik, dan tindakan bunuh diri. Sebelum pemberontakan itu pecah, Tan Malaka sudah mengingatkan para pemimpin komunis di Tanah Air.

Sementara polisi kolonial terus memburu para tokoh komunis, Desember 1926, Tan Malaka pergi ke Bangkok, Thailand, dan bertemu dengan anggota PKI Subakat dan Djamaluddin Tamim. Mereka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI). Dengan menyamar sebagai Haji Ibrahim, Tan Malaka berdiam di Chieng-Mai.

Tan kembali ke Manila pada Agustus 1927, tapi segera ditangkap oleh polisi Amerika atas permintaan Belanda. Subakat ditangkap di Bangkok, 1929, dan meninggal di penjara 1930. Adapun Tamim ditangkap di Singapura, 1932.

Tan dideportasi, lalu ia meninggalkan Filipina dengan kapal. Ia memperkirakan akan ditangkap kembali oleh Belanda sesaat mendarat di Cina. Karena itu, dengan bantuan awak kapal orang Filipina, ia melarikan diri ketika kapal menambatkan jangkar di Pelabuhan Amoy (Xianmen). Tan bersembunyi di sebuah desa terdekat, Sionching, sekitar dua tahun.

Ia pindah ke Shanghai pada sekitar 1929. Dua tahun kemudian ia mulai bekerja lagi untuk Komintern. Ketika Jepang menduduki Shanghai pada September 1932, Tan Malaka melarikan diri ke Hong Kong, dengan penyamaran sebagai seorang Cina-Filipina dan menggunakan nama samaran. Tapi, ia ditangkap oleh pihak berwenang Inggris dan dipenjara selama beberapa bulan sebelum akhirnya diusir dari Hong Kong.

Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan untuk tempat pengasingan, Tan Malaka memilih kembali ke Amoy. Ia sempat berhubungan kembali dengan teman lama di Desa Iwe, tanpa penangkapan. Tapi, di sana, jatuh sakit beberapa tahun sebelum seorang dokter Cina memulihkan kesehatannya.

Pada 1936, ia kembali ke Amoy, dan ia mengajar bahasa Inggris, Jerman, dan teori Marxist; sampai 1937 sekolah itu menjadi sekolah bahasa terbesar di Amoy.

Pada Agustus 1937 ia pergi ke Rangoon, Birma, lewat Singapura selama satu bulan. Tapi, karena tabungannya terkuras, ia kembali ke Singapura melalui Penang, dan bekerja sebagai guru. Tatkala Jepang menduduki jazirah Melayu dan Indonesia pada 1942, Tan Malaka memutuskan pulang ke Tanah Air yang telah ia tinggalkan hampir dua puluh tahun.

Tan Malaka mulai dengan sebuah perjalanan panjang beberapa bulan, tinggal beberapa waktu di Penang sebelum menyeberang ke Sumatra kemudian mengunjungi Medan, Padang, dan beberapa kota lain di Sumatera sebelum tinggal di pinggiran Jakarta yang diduduki Belanda pada Juli 1942. Sebagian besar waktunya di sana dihabiskan dengan menulis dan riset di perpustakaan Jakarta, menulis buku Madilog dan ASLIA (Asia-Australia).

Lagi-lagi tabungannya dari gaji mengajar di Singapura nyaris terkuras. Dengan menggunakan nama palsu, ia bekerja sebagai administrator di pertambangan batu bara di Bayah, Jawa Barat.

Jepang menyerah dan Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Tan Malaka meninggalkan Bayah, dan mulai lagi menggunakan nama aslinya untuk pertama kali dalam dua puluh tahun terakhir. Ia mengadakan perjalanan pertama ke Jakarta, kemudian dilanjutkan ke sekitar Jawa.

Solo, pertengahan Januari 1946. Tan Malaka bersama sekitar 140 organisasi nasionalis dan buruh membentuk Persatuan Perjuangan (PP), dengan tujuan mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Koalisi ini mendapat dukungan luas dari rakyat dan tentara Republik, termasuk dukungan dari Jenderal Sudirman. Programnya antara lain kemerdekaan 100 persen, pemerintahan rakyat, tentara rakyat.

Oleh Perdana Menteri Syahrir, PP dituduh mencoba mengadakan kudeta. Tan Malaka dan beberapa pimpinan PP ditangkap, Maret 1946. Ia penjara sampai September 1948 tanpa pernah diadili. Setelah bebas, ia membentuk Partai Murba di Yogyakarta, 7 November 1948.

Ketika Belanda menangkap para pemimpin pemerintahan pada Desember 1948, Tan melarikan diri ke pedesaan di Jawa Timur. Ia mendirikan markasnya di Blimbing, sebuah desa yang dikelilingi persawahan. Ia berhubungan dengan Mayor Sabarudin, komandan Batalion 38. Akibat konflik dengan kelompok tentara yang lain, Sabarudin dan anak buahnya ditangkap pimpinnan TNI Jawa Timur dan didakwa berdasarkan undang-undang militer. Tan Malaka juga ditangkap di Blimbing, 19 Februari 1949.

Korps Speciale Troepen (KST) Belanda melancarkan operasi dari Nganjuk, Jawa Timur, dengan cepat dan brutal. Sejarawan Belanda Poeze (2007) menggambarkan dengan detail bagaimana pasukan TNI melarikan diri memasuki pegunungan dan bagaimana Tan Malaka, yang sudah terluka, berjalan menuju sebuah pos TNI dan secara diam-diam dieksekusi pada 21 Februari 1949 di Dusun Selopanggung, Desa Tanggul, sekitar 20 kilometer ke barat Kediri. Letnan Dua Sukotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya, menjadi aktor di balik penembakan itu. Tan Malaka dikuburkan di dalam hutan. Revolusi telah memakan anaknya sendiri.

Namun, menurut pemberitaan Time edisi 4 Juli 1949, Tan Malaka dieksekusi 9 April, dekat Blitar. Republiken, tulis Time--juga melaporkan bahwa mereka telah mengeksekusi mantan perdana menteri Amir Sjarifoeddin, R.M. Suripino, dan seorang mantan diplomat dan sekretaris PKI Hadjono.

Sebagai seorang ideolog, Tan Malaka menuangkan buah pikirannya ke dalam sejumlah buku, antara lain yang terkenal Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika); Menuju Republik Indonesia (pertama kali terbit di Kowloon, Hong Kong, April 1925), Dari Penjara ke Penjara (otobiografi), dan Gerpolek.

Tan Malaka telah menjadi tokoh legenda. Bahkan pada September 1945, Sukarno pernah menulis sebuah wasiat kepada Tan Malaka untuk melanjutkan memimpin revolusi jika ia dan Hatta tidak mampu.

Nama Tan Malaka muncul sebagai tokoh utama dalam beberapa karya fiksi yang terbit di Medan, dengan julukan Patjar Merah Indonesia. Salah satu yang terkenal adalah roman Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia). Roman karya Matu Mona itu mengisahkan petualangan Patjar Merah, seorang aktivis politik yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari kolonialisme Belanda. Karena kegiatannya itu, ia harus melarikan diri dari Indonesia dan menjadi buruan polisi rahasia internasional.

(Wikipedia, What Next Journal, Dari Penjara ke Penjara (Tan Malaka), Pergulatan Menuju Republik: Tan Malaka 1925-1945 (Harry A. Poeze), Socialism and Liberation magazine, Time, Ngarto Februana)